Mendes Yandri Gagaskan Gerakan Nasional Untuk Donor Darah. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto baru saja meluncurkan Gerakan Nasional Donor Darah Desa untuk Indonesia. Gagasan ini muncul dari kebutuhan darah nasional yang mencapai sekitar 5,6 juta kantong per tahun, sementara stok sering kali kurang. Yandri menekankan peran desa sebagai basis utama gerakan ini, karena potensi penduduk pedesaan yang besar dan semangat gotong royong yang kuat. Peluncuran ini dilakukan pada awal Januari 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat pelayanan sosial dasar di tingkat desa. Gerakan ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan darah secara mandiri, terutama di daerah terpencil yang sulit akses unit transfusi. BERITA VOLI
Latar Belakang dan Alasan Gerakan: Mendes Yandri Gagaskan Gerakan Nasional Untuk Donor Darah
Kebutuhan darah di Indonesia terus meningkat karena kecelakaan, operasi, dan penyakit seperti thalassemia atau kanker. Namun, stok sering defisit, terutama di luar kota besar. Yandri melihat desa sebagai solusi, karena ada ribuan desa dengan jutaan penduduk sehat yang potensial jadi pendonor rutin. Gagasan ini lahir dari pengamatan bahwa desa sudah sukses dalam berbagai gerakan seperti desa wisata atau ekspor produk lokal, jadi donor darah bisa jadi pelayanan sosial paling dasar.
Gerakan ini juga selaras dengan program pembangunan desa yang holistik, di mana kesehatan masyarakat jadi prioritas. Dengan menggerakkan desa, diharapkan stok darah nasional lebih stabil tanpa bergantung sepenuhnya pada kota. Yandri menyebut ini sebagai bentuk kontribusi desa untuk Indonesia secara keseluruhan, sekaligus membangun solidaritas antarwarga.
Cara Pelaksanaan dan Target Gerakan: Mendes Yandri Gagaskan Gerakan Nasional Untuk Donor Darah
Gerakan ini direncanakan melibatkan kepala desa, perangkat, dan organisasi masyarakat seperti karang taruna atau PKK untuk mengorganisir donor darah rutin. Kolaborasi dengan Palang Merah Indonesia jadi kunci, termasuk mobile unit untuk jemput bola ke desa-desa. Target awal adalah menggerakkan donor di ribuan desa, dengan jadwal bulanan atau triwulanan agar stok terjaga.
Pendampingan dari kementerian akan mencakup edukasi manfaat donor darah, syarat kesehatan pendonor, serta mitos yang salah. Desa yang aktif bisa dapat insentif seperti dukungan program lain. Yandri optimistis, jika setiap desa berkontribusi sedikit, kebutuhan nasional bisa terpenuhi secara berkelanjutan.
Manfaat dan Tantangan Ke Depan
Gerakan ini membawa manfaat ganda: memenuhi stok darah nasional sekaligus meningkatkan kesehatan warga desa melalui skrining rutin saat donor. Ini juga jadi ajang gotong royong yang memperkuat sosial masyarakat pedesaan. Di sisi lain, tantangan seperti akses transportasi ke desa terpencil atau kurangnya kesadaran perlu diatasi dengan sosialisasi intensif.
Ke depan, gerakan ini diharapkan jadi program berkelanjutan yang terintegrasi dengan layanan kesehatan desa.
Kesimpulan
Gagasan Mendes Yandri tentang Gerakan Nasional Donor Darah Desa untuk Indonesia jadi langkah inovatif memperkuat ketahanan kesehatan dari tingkat akar rumput. Dengan memanfaatkan potensi desa, gerakan ini bisa jadi solusi jangka panjang defisit darah nasional. Keberhasilan tergantung partisipasi aktif warga dan dukungan semua pihak. Inisiatif ini mengingatkan bahwa kontribusi kecil dari desa bisa berdampak besar bagi bangsa. Semoga gerakan ini sukses dan jadi inspirasi program sosial lain di pedesaan. Donor darah dari desa bukan hanya selamatkan nyawa, tapi juga perkuat solidaritas nasional.




