Operasi Trump di Venezuela Munculkan Banyak Pertanyaan. Operasi militer Amerika Serikat di Venezuela pada 3 Januari 2026, yang dijuluki Operation Absolute Resolve, telah menimbulkan gelombang pertanyaan di seluruh dunia. Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, pasukan khusus berhasil menangkap Nicolás Maduro, presiden Venezuela, beserta istrinya Cilia Flores, di tengah serangan udara yang menargetkan instalasi militer di Caracas. Trump kemudian menyatakan bahwa Amerika akan sementara “menjalankan” Venezuela hingga transisi kekuasaan yang aman terwujud, dengan tujuan mengalirkan minyak kembali dan menstabilkan negara itu. Pernyataan ini langsung memicu kontroversi, karena dianggap mencampuradukkan antara operasi penegakan hukum dengan intervensi militer penuh. Meski Trump membingkainya sebagai upaya memerangi narkoterorisme, banyak pihak mempertanyakan legalitas, motivasi sebenarnya, dan implikasi jangka panjang terhadap kedaulatan negara lain. Kejadian ini datang setelah berbulan-bulan eskalasi militer AS di wilayah tersebut, termasuk serangan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba. BERITA BASKET
Latar Belakang Operasi dan Motivasi Trump: Operasi Trump di Venezuela Munculkan Banyak Pertanyaan
Operasi ini berakar dari dakwaan federal AS terhadap Maduro sejak 2020, yang menuduhnya memimpin jaringan narkoterorisme melalui Cartel de los Soles, bekerja sama dengan kelompok gerilya Kolombia untuk menyelundupkan kokain ke Amerika. Hadiah penangkapan Maduro sempat dinaikkan menjadi 50 juta dolar pada musim panas 2025, menandakan prioritas tinggi bagi administrasi Trump. Selama konferensi pers, Trump menekankan bahwa tindakan ini adalah bagian dari kampanye melawan perdagangan narkoba, dengan menyebut Venezuela sebagai ancaman keamanan nasional. Namun, pernyataannya tentang mengelola Venezuela dan “mengalirkan minyak” memunculkan dugaan bahwa motivasi utama adalah ekonomi, mengingat negara itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Kritikus menilai ini sebagai revival Doktrin Monroe, di mana AS mengklaim dominasi di belahan barat bumi, dan memperingatkan bahwa fokus pada minyak melemahkan klaim operasi sebagai aksi penegakan hukum semata. Sebelumnya, AS telah melakukan puluhan serangan terhadap kapal di Karibia dan Pasifik Timur, menewaskan lebih dari 115 orang, sebagai bagian dari eskalasi militer regional. Trump juga menyebut operasi ini sebagai pesan bagi negara lain seperti Meksiko dan Kolombia untuk memerangi narkoba lebih keras.
Jalannya Operasi Absolute Resolve: Operasi Trump di Venezuela Munculkan Banyak Pertanyaan
Operasi dimulai dini hari dengan ledakan di Caracas, yang mematikan listrik di sebagian kota dan menargetkan sistem pertahanan udara serta instalasi militer. Pasukan elite Delta Force, didukung unit penerbangan khusus, mendarat dengan helikopter dan menyerbu rumah aman Maduro, menangkapnya tanpa korban jiwa di pihak AS. Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke kapal perang USS Iwo Jima sebelum diterbangkan ke New York untuk diproses di pengadilan federal. Trump memuji operasi sebagai sukses total, dengan persiapan yang melibatkan replika rumah Maduro untuk latihan. Meski cepat, tindakan ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana AS bisa menembus pertahanan Venezuela tanpa perlawanan signifikan, dan apakah intelijen internal memainkan peran. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez muncul di televisi nasional mengecam aksi ini sebagai agresi, sementara oposisi seperti María Corina Machado menyambutnya sebagai langkah menuju demokrasi. Di luar negeri, komunitas Venezuela di AS merayakan, tapi operasi ini juga memicu kekhawatiran tentang eskalasi konflik regional.
Pertanyaan Hukum dan Reaksi Internasional
Pernyataan Trump bahwa AS akan “menjalankan” Venezuela memunculkan pertanyaan besar tentang legalitas operasi. Pakar hukum internasional menilai ini bertentangan dengan klaim bahwa aksi tersebut hanyalah penangkapan kriminal, karena mengimplikasikan pengendalian jangka panjang atas negara berdaulat. Tidak ada preseden historis langsung, meski mirip invasi Panama 1989 untuk menangkap Manuel Noriega. Kongres AS tidak memberikan otorisasi sebelumnya, mengandalkan kekuasaan presiden sebagai panglima tertinggi, tapi ini menuai kritik sebagai pelanggaran konstitusi dan hukum internasional. Secara global, reaksi terbelah: beberapa negara mengutuk sebagai intervensi ilegal, sementara yang lain diam atau mendukung secara diam-diam. Di Kanada, komunitas Venezuela terpecah antara yang merayakan dan yang khawatir tentang motif sebenarnya. Trump menegaskan operasi ini bukan perubahan rezim, tapi pernyataannya tentang dominasi hemispheric memicu spekulasi bahwa target lain seperti Kuba atau Nikaragua bisa menyusul. Di media sosial, diskusi ramai tentang apakah ini melegitimasi aksi serupa oleh negara lain, seperti Rusia di Ukraina atau China di Taiwan.
Kesimpulan
Operasi Trump di Venezuela telah mengubah lanskap geopolitik Amerika Latin secara dramatis, tapi juga meninggalkan banyak pertanyaan tak terjawab tentang legalitas, etika, dan konsekuensi jangka panjang. Sementara penangkapan Maduro dianggap sebagai kemenangan melawan narkoterorisme oleh pendukungnya, kritik melihatnya sebagai langkah berbahaya yang bisa memicu ketidakstabilan regional dan merusak citra AS sebagai pembela demokrasi. Transisi kekuasaan di Venezuela kini bergantung pada bagaimana AS mengelola peran sementaranya, termasuk pengelolaan sumber daya minyak dan pencegahan kekosongan kekuasaan. Di tengah polarisasi global, peristiwa ini menegaskan bahwa akuntabilitas lintas batas sering kali datang dengan harga tinggi. Masa depan akan menunjukkan apakah operasi ini membawa stabilitas atau justru konflik baru bagi wilayah tersebut.




