Rafah Crossing Dibuka, Pasien Gaza Dievakuasi. Di tengah upaya pemulihan pasca-konflik yang berkepanjangan, perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir akhirnya dibuka kembali pada 2 Februari 2026. Ini menandai momen penting setelah penutupan selama lebih dari 18 bulan akibat perang yang menghancurkan wilayah tersebut. Pembukaan ini memungkinkan arus orang terbatas, termasuk evakuasi pasien yang membutuhkan perawatan medis mendesak di luar Gaza. Meski masih dibatasi, langkah ini membawa harapan bagi ribuan warga yang terjebak dalam kondisi kemanusiaan yang sulit. Dengan keterlibatan organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), proses ini diharapkan bisa mempercepat bantuan bagi mereka yang paling rentan. INFO CASINO
Proses Pembukaan Kembali Rafah Crossing: Rafah Crossing Dibuka, Pasien Gaza Dievakuasi
Pembukaan Rafah Crossing merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, yang mulai berlaku sejak pertengahan Oktober tahun lalu. Israel, yang sebelumnya menolak pembukaan karena alasan keamanan, akhirnya menyetujui setelah pemulihan jenazah sandera terakhir dari Gaza pekan lalu. Pengelolaan perbatasan ini melibatkan delegasi Uni Eropa dan personel Otoritas Palestina untuk identifikasi dan pengawasan, sementara Israel melakukan pengawasan jarak jauh tanpa kehadiran langsung di lokasi.
Pada hari pertama, perbatasan dibuka untuk lalu lintas pejalan kaki terbatas. Otoritas Israel menetapkan kuota 50 orang per hari untuk keluar dan masuk, termasuk pasien sakit serta pendamping mereka. Namun, realisasinya lebih rendah karena keterlambatan administratif dari pihak Israel. Hanya 12 warga Palestina yang berhasil masuk ke Gaza dari Mesir, sementara kelompok kecil pasien medis diberangkatkan ke arah sebaliknya. Proses ini diawasi ketat untuk memastikan keamanan, dengan daftar nama yang harus disetujui terlebih dahulu oleh badan keamanan Israel. Pembukaan ini juga memungkinkan warga yang terdampar di Mesir selama perang untuk pulang, meski jumlahnya masih minim.
Langkah ini datang setelah tekanan internasional yang kuat, mengingat Rafah adalah satu-satunya pintu keluar Gaza ke dunia luar selain perbatasan dengan Israel. Selama penutupan, ribuan warga Gaza kesulitan mengakses perawatan medis, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya. Kini, dengan pembukaan terbatas, diharapkan arus bantuan kemanusiaan bisa meningkat, meski masih jauh dari ideal.
Evakuasi Pasien Pertama dari Gaza: Rafah Crossing Dibuka, Pasien Gaza Dievakuasi
Evakuasi medis menjadi fokus utama pada hari pembukaan. WHO, bekerja sama dengan mitra lokal seperti Bulan Sabit Merah Palestina, berhasil memfasilitasi keluarnya lima pasien pertama beserta tujuh pendamping mereka ke Mesir. Para pasien ini termasuk mereka yang menderita luka parah akibat konflik, kondisi kronis seperti kanker, dan cedera yang memerlukan perawatan spesialis yang tidak tersedia di Gaza. Mereka diangkut menggunakan ambulans dan tiba di Mesir untuk dirawat di rumah sakit yang telah disiapkan, dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan Mesir yang menyediakan sekitar 150 rumah sakit dan 300 ambulans.
Menurut data kesehatan lokal, lebih dari 18.500 pasien saat ini menunggu evakuasi, termasuk sekitar 4.000 anak-anak. Di antaranya, ribuan menderita amputasi, luka bakar parah, kerusakan otak, cedera tulang belakang, dan masalah anggota tubuh lainnya akibat serangan selama perang dua tahun. Sebelumnya, lebih dari 10.000 pasien telah dievakuasi sejak konflik dimulai, tapi penutupan Rafah menghentikan proses ini selama berbulan-bulan. Pada hari pertama, meski Israel berjanji mengizinkan 50 pasien per hari beserta dua pendamping masing-masing, hanya segelintir yang lolos karena prosedur ketat.
Proses evakuasi ini digambarkan sebagai “permulaan” oleh juru bicara WHO, yang menekankan perlunya alur berkelanjutan. Pasien dikumpulkan di rumah sakit seperti Al-Shifa dan Nasser di Gaza selatan sebelum diberangkatkan. Bagi keluarga, ini membawa kelegaan, meski banyak yang masih menunggu giliran. Seorang direktur rumah sakit di Gaza menyebut pembatasan ini bisa menjadi “hukuman mati” bagi ribuan pasien lain yang kondisinya memburuk setiap hari karena kurangnya obat dan peralatan medis.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski pembukaan Rafah membawa angin segar, tantangan masih menumpuk. Keterlambatan dari Israel menjadi hambatan utama, dengan hanya sebagian kecil dari kuota yang terealisasi pada hari pertama. Organisasi kemanusiaan seperti Save the Children memperingatkan bahwa dengan batas 150 orang keluar per hari, butuh lebih dari setahun untuk mengevakuasi 20.000 pasien yang terdaftar. Selain itu, risiko keamanan tetap ada, seperti insiden di mana kendaraan militer Israel dilaporkan mendekati ambulans dekat perbatasan, meski tidak ada korban.
Di sisi lain, harapan muncul dari potensi peningkatan arus. Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa perbatasan akan dibuka dua arah tanpa mencegah siapa pun keluar, yang bisa memfasilitasi ratusan orang per hari jika proses lancar. Ini juga membuka peluang bagi mahasiswa Gaza untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri dan warga terdampar untuk bersatu kembali dengan keluarga. Bantuan internasional diharapkan meningkat, termasuk pasokan medis dan makanan yang lebih lancar melalui perbatasan ini.
Selain evakuasi medis, pembukaan ini bisa mendukung rekonstruksi Gaza yang hancur. Namun, keberhasilan bergantung pada kerja sama antarpihak, termasuk Mesir, Israel, dan otoritas Palestina, untuk menghindari pembatasan berlebih yang bisa memperlambat proses.
Kesimpulan
Pembukaan kembali Rafah Crossing adalah langkah krusial menuju pemulihan Gaza setelah tahun-tahun penuh penderitaan. Evakuasi pasien pertama membawa harapan bagi ribuan yang membutuhkan perawatan mendesak, meski prosesnya masih terbatas dan penuh hambatan. Dengan keterlibatan internasional, diharapkan alur ini bisa diperluas untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa dan memfasilitasi kembalinya kehidupan normal. Namun, tanpa komitmen berkelanjutan dari semua pihak, risiko krisis kemanusiaan yang berkepanjangan tetap mengancam. Saat ini, fokus harus pada percepatan evakuasi untuk mencegah lebih banyak korban jiwa di wilayah yang sudah porak-poranda.




