IHSG Dibuka Turun Tajam 6 Februari. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka langsung melemah tajam pada Jumat 6 Februari 2026. Pada pukul 09.01 WIB, IHSG langsung anjlok 1,9% ke level 6.689 dari penutupan sebelumnya di 6.820. Penurunan ini menjadi salah satu pembukaan terburuk tahun ini, dengan volume perdagangan awal sesi mencapai Rp1,2 triliun dalam 15 menit pertama. Tekanan jual terutama datang dari saham-saham blue chip sektor perbankan, konsumer, dan komoditas. Pelaku pasar merespons negatif pemangkasan outlook sovereign credit rating Indonesia oleh Moody’s pada 5 Februari, ditambah kekhawatiran atas defisit fiskal dan aliran modal asing yang terus keluar. INFO CASINO
Faktor Penyebab Penurunan Tajam: IHSG Dibuka Turun Tajam 6 Februari
Pembukaan merah IHSG dipicu beberapa sentimen utama:
Moody’s memangkas outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif sambil mempertahankan rating Baa2. Alasan utama adalah risiko fiskal yang meningkat akibat defisit APBN yang melebar dan ketergantungan pada aliran modal asing.
Investor asing mencatat net sell Rp1,9 triliun pada perdagangan 5 Februari, dan aksi jual berlanjut di pembukaan hari ini.
Rupiah melemah ke Rp16.450 per dolar AS di pasar spot pagi ini, menambah tekanan pada saham-saham yang sensitif terhadap nilai tukar.
Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke 6,92%, level tertinggi sejak Oktober 2025, mencerminkan kekhawatiran pasar atas biaya utang yang lebih mahal.
Saham-saham yang paling tertekan di pembukaan: BBCA turun 2,9%, BBRI minus 3,4%, BMRI anjlok 3,1%, ADRO minus 4,1%, dan INCO terpuruk 4,5%. Sektor perbankan dan komoditas menjadi yang paling banyak dilepas investor.
Reaksi Pasar dan Analisis: IHSG Dibuka Turun Tajam 6 Februari
Volume perdagangan di 30 menit pertama mencapai Rp3,8 triliun, menunjukkan aksi jual yang cukup masif. Analis pasar menyebut penurunan ini sebagai reaksi over dan bersifat sementara, karena fundamental ekonomi Indonesia masih solid dengan pertumbuhan PDB di atas 5% dan inflasi terkendali. Namun sentimen bisa memburuk jika lembaga rating lain seperti S&P atau Fitch mengikuti langkah Moody’s dalam waktu dekat.
Bank Indonesia terpantau aktif melakukan intervensi valas untuk menahan pelemahan rupiah lebih dalam. Sementara itu, Kementerian Keuangan menyatakan outlook negatif Moody’s lebih dipengaruhi faktor eksternal global daripada kelemahan domestik, dan menegaskan komitmen menjaga defisit di bawah 3% PDB pada 2026. Beberapa analis memperkirakan IHSG berpotensi rebound jika tidak ada sentimen negatif tambahan dari lembaga rating lain atau The Fed.
Prospek dan Saran Investor
Meski dibuka turun tajam, IHSG masih berpotensi menguat kembali sepanjang hari jika tidak ada berita buruk baru. Level support kritis berada di 6.650–6.680; jika bertahan di atas zona itu, peluang rebound ke 6.900 masih terbuka. Sebaliknya, jika tembus 6.650, tekanan jual bisa berlanjut ke 6.550–6.600.
Investor disarankan:
Hindari panic selling pada saham blue chip yang fundamentalnya masih kuat.
Pantau perkembangan komunikasi pemerintah dan BI terkait stabilitas rupiah.
Waspadai potensi aksi jual lanjutan dari asing jika yield obligasi terus naik.
Secara keseluruhan, penurunan ini lebih bersifat sentimen jangka pendek daripada perubahan fundamental jangka panjang.
Kesimpulan
Pembukaan IHSG yang turun tajam 1,9% pada 6 Februari 2026 menjadi respons pasar terhadap pemangkasan outlook oleh Moody’s. Tekanan jual terutama menyasar saham perbankan dan komoditas, ditambah pelemahan rupiah dan kenaikan yield obligasi. Meski terasa berat di awal sesi, fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan penurunan ini kemungkinan bersifat sementara selama tidak ada sinyal negatif tambahan dari lembaga rating lain. Investor disarankan tetap tenang, fokus pada saham berkualitas, dan memantau komunikasi resmi pemerintah serta BI. Pasar keuangan Indonesia punya ketahanan yang baik—yang penting adalah menjaga momentum pertumbuhan dan disiplin fiskal agar kepercayaan investor kembali pulih dalam waktu dekat.




