Perempuan WNI Jadi Korban Penyerangan di Singapore. Seorang perempuan warga negara Indonesia berinisial R (29 tahun) menjadi korban penyerangan fisik di kawasan Geylang, Singapura, pada Kamis dini hari, 12 Februari 2026. Korban yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di sebuah keluarga ekspatriat itu diserang oleh seorang pria tak dikenal saat sedang berjalan sendirian menuju halte bus setelah menyelesaikan shift malam. Menurut keterangan polisi setempat, korban mengalami luka memar berat di wajah, lengan, dan bagian tubuh lainnya akibat pukulan serta tarikan kasar, meski tidak mengalami luka tusuk atau patah tulang. Ia ditemukan tergeletak di trotoar oleh pejalan kaki yang langsung memanggil ambulans, kemudian dibawa ke rumah sakit untuk perawatan luka dan observasi. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura segera merespons dengan mengirimkan tim perlindungan warga untuk mendampingi korban, menghubungi keluarga di Tanah Air, serta berkoordinasi dengan otoritas Singapura guna memastikan proses penyidikan berjalan cepat dan transparan. Insiden ini menambah kekhawatiran di kalangan pekerja migran Indonesia di Singapura, terutama perempuan yang sering bekerja malam hari dan beraktivitas sendirian di area publik. REVIEW KOMIK
Kronologi Kejadian dan Kondisi Korban Saat Ini: Perempuan WNI Jadi Korban Penyerangan di Singapore
Penyerangan terjadi sekitar pukul 02.15 waktu setempat ketika korban baru keluar dari rumah majikan dan berjalan menuju halte bus terdekat melalui jalan yang cukup sepi meski berada di kawasan ramai seperti Geylang. Saksi mata yang melintas mengatakan melihat seorang pria mendekat dari belakang, langsung menarik korban ke samping trotoar, kemudian memukul berulang kali hingga korban jatuh. Pelaku kemudian melarikan diri ke arah gang sempit sebelum ada yang sempat mengejar. Korban sempat sadar saat petugas medis tiba dan bisa memberikan deskripsi singkat tentang pelaku sebelum dibawa ke rumah sakit. Saat ini kondisinya stabil meski masih mengalami nyeri hebat di kepala dan wajah, dengan dokter memberikan perawatan untuk memar serta cedera ringan pada tulang rawan hidung. Korban sudah bisa berkomunikasi dengan keluarga melalui video call yang difasilitasi kedutaan, dan menyatakan tidak mengenal pelaku sama sekali serta tidak ada konflik sebelumnya. Tim medis memperkirakan korban memerlukan istirahat total sekitar satu hingga dua minggu sebelum bisa kembali beraktivitas normal, sementara pihak rumah sakit menyatakan tidak ada indikasi cedera permanen jika pemulihan berjalan lancar.
Penyelidikan Polisi Singapura dan Dugaan Motif: Perempuan WNI Jadi Korban Penyerangan di Singapore
Polisi Singapura langsung membentuk tim investigasi dengan memanfaatkan rekaman CCTV dari beberapa sudut jalan di Geylang serta keterangan saksi yang melihat pelaku melarikan diri. Pelaku digambarkan sebagai pria berusia sekitar 30-40 tahun, bertubuh sedang hingga kekar, mengenakan pakaian gelap dan topi saat kejadian. Dalam waktu kurang dari 24 jam, polisi berhasil menangkap tersangka di sebuah kontrakan sewaan tidak jauh dari lokasi berdasarkan jejak yang tertangkap kamera dan informasi dari tetangga. Tersangka, warga negara Singapura berinisial K (37 tahun), tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya namun sedang dalam kondisi mabuk berat saat ditangkap. Motif awal yang terungkap adalah tindakan impulsif akibat pengaruh alkohol, di mana pelaku mengaku merasa terganggu oleh kehadiran korban yang berjalan sendirian di malam hari tanpa alasan yang jelas. Polisi menegaskan tidak ada unsur pencurian atau motif seksual yang terdeteksi, melainkan lebih ke arah kekerasan acak yang dipicu oleh kondisi mabuk. Proses hukum akan berlanjut dengan kemungkinan tuduhan penganiayaan berat, sementara korban diminta memberikan keterangan tambahan setelah kondisinya lebih baik.
Respons Kedutaan dan Imbauan bagi Pekerja Migran
Kedutaan Besar Indonesia di Singapura langsung memberikan pendampingan penuh kepada korban, termasuk bantuan biaya pengobatan awal, komunikasi dengan majikan korban, serta koordinasi pemulangan sementara jika diperlukan. KBRI juga menghubungi keluarga korban di Indonesia untuk memberikan update kondisi serta menawarkan bantuan psikologis melalui konselor yang tersedia. Insiden ini memicu imbauan resmi kepada seluruh pekerja migran Indonesia, khususnya perempuan, agar lebih waspada saat beraktivitas malam hari: berjalan beramai-ramai jika memungkinkan, menggunakan transportasi online atau bus resmi, serta menghindari jalan sepi meski di kawasan ramai. Beberapa organisasi pekerja migran menyatakan keprihatinan atas pola kekerasan acak yang mulai sering terjadi terhadap pekerja asing, dan meminta pemerintah Singapura meningkatkan patroli malam di kawasan seperti Geylang serta memperketat pengawasan terhadap individu yang berpotensi melakukan tindak kekerasan. KBRI menegaskan bahwa perlindungan warga negara tetap menjadi prioritas utama, dengan komitmen untuk mendampingi korban hingga proses hukum selesai dan pemulihan tercapai.
Kesimpulan
Penyerangan terhadap perempuan WNI di Singapura menjadi pengingat bahwa meski negara tersebut dikenal aman, risiko kekerasan acak tetap ada, terutama bagi pekerja migran yang sering berada di posisi rentan. Penanganan cepat oleh polisi Singapura dan pendampingan intensif dari kedutaan patut diapresiasi, namun kasus ini juga menekankan perlunya langkah pencegahan lebih kuat baik dari pemerintah penempatan maupun kesadaran pribadi para pekerja migran. Bagi korban, pemulihan fisik dan mental menjadi prioritas utama, sementara bagi keluarga dan komunitas WNI di Singapura, kejadian ini menjadi panggilan untuk saling menjaga dan tidak lengah. Di tengah situasi yang penuh tantangan, harapan terbesar adalah agar korban segera pulih sepenuhnya dan bisa melanjutkan kehidupan tanpa trauma berkepanjangan, sekaligus mendorong lingkungan kerja yang lebih aman bagi seluruh pekerja migran Indonesia di luar negeri.




